PARADIGMA PENDIDIKAN DAN PERTUMBUHAN YANG BERWAWASAN GLOBAL SERTA TANTANGANNYA DI MASA DEPAN
I. Pendahuluan
Pendidikan memiliki peran penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dalam upaya menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas. Pendidikan merupakan suatu faktor kebutuhan dasar untuk setiap manusia sebagai upaya mencerdaskan kehidupan bangsa, karena melalui pendidikan upaya peningkatan kesejahteraan rakyat dapat diwujudkan.
Pendidikan merupakan bentuk investasi sumber daya manusia yang harus lebih diprioritaskan karena pendidikan merupakan investasi jangka panjang.Di mana nilai balik dari investasi pendidikan tidak dapat langsung dinikmati oleh investor saat ini, melainkan akan dinikmati di masa yang akan datang. Untuk itu perlunya peran pemerintah dan swasta dalam meningkatkan mutu pendidikan sehinga pendidikan di Indonesia tidak terlalu tertinggal dengan negara berkembang lainnya. Dengan meningkatkan sarana dan prasarana dalam bidang teknologi dan bahasa asing SDM di Indonesia akan lebih berkualitas sehinnga dapat bersaing dengan tenaga kerja lainnya yang berasal dari luar negeri..
II. Pembahasan
Pendidikan bukan saja akan melahirkan sumber daya manusia (SDM) berkualitas, memiliki pengetahuan dan keterampilan serta menguasai teknologi, tetapi juga dapat menumbuhkan iklim bisnis yang sehat dan kondusif bagi pertumbuhan ekonomi.
Di Indonesia, pendidikan masih belum mendapatkan tempat yang utama sebagai prioritas program pembangunan nasional. Rendahnya pemenuhan anggaran pendidikan dapat mengakibatkan mutu pendidikan dan perluasan akses pendidikan menjadi terhambat. Dalam anggaran pun masih sangat kurangdari APBN 2006 baru mencapai 9% atau Rp 36,7 triliun, sedangkan pada tahun 2007 diperkirakan jumlah anggaran pendidikan baru berkisar 11%.Akibatnya peningkatan pengetahuan, keterampilan, dan penguasaan teknologidi Indonesia akan semakin tertinggal dari negara lain yang mengalokasikan anggaran yang sangat besar untuk pendidikan. Bukan hanya dalam hal anggaran saja pemerintah juga harus menetapkan standar Nasional pendidikan agar pendidikan di Indonesia tidak menjadi runyam. Standar Nasional pendidikan meliputi standar isi, proses, ketenagaan, sarana dan prasarana, pengelolaan, evaluasi, pembiayaan dan kompetensi lulusan.
Dengan adanya standar Nasional pendidikan, maka arah peningkatankualitas pendidikan Indonesia menjadi lebih jelas. Bila setiap satuan pendidikan telah dapat mencapai atau melebihi standar nasional pendidikan tersebut, maka kualitas satuan pendidikan tersebut dapat dinyatakan tinggi.Berbagai kebijakan yang mendorong peningkatan kualitas pendidikan telah ditetapkan dan diimplementasikan, dengan harapan kualitas pendidikan dapat berangsur-angsur meningkat pada gradasi yang tinggi.
Sehingga pencapaian pendidikan yang sesuai dengan standar Nasional pada semua level niscaya akan meningkatkan pendapatan dan produktivitas masyarakat. Pendidikan merupakan jalan menuju kemajuan dan pencapaian kesejahteraan sosial dan ekonomi. Sedangkan kegagalan membangun pendidikan akan melahirkan berbagai problem krusial: pengangguran, kriminalitas, penyalahgunaan narkoba yang menjadi beban sosial politik bagi pemerintah.
Kondisi Pendidikan di Indonesia
Sekolah merupakan ujung tombak terdepan dalam pelayanan publik di lingkungan pendidikan. Dalam persoalan pendidikan anak, orang tua dan masyarakat selalu menginginkan agar anaknya mendapatkan pendidikan terbaik dan mendapatkan pelayanan yang prima. Oleh karena itu, sekolah harus dapat membuat suasana pembelajaran lebih menyenangkan bukan memberikan beban terhadap siswa nya. Dengan terbentuknya suasana dan proses pembelajaran yang menyenangkan, peserta didik akan aktif mengembangkan potensi sesuai dengan bakat dan minatnya. Dengan berkembangnya potensi peserta didik, maka mereka akan memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya.
Tingkat melek huruf dan angka partisipasi pendidikan masih banyak terdapat didalam masyarakat Indonesia sehingga bagi mereka yang ingin membuka usaha memerlukan modal tersendiri karena di Indonesia investasi modal fisik masih dianggap sebagai satu-satunya faktor utama dalam pengembangan dan akselerasi usaha. Untuk memenuhi kebutuhan modal manusianya, di Indonesia cenderung mendatangkan tenaga kerja dari luar negeri. Dalam jangka pendek cara ini mungkin ada benarnya, karena diharapkan dapat memberikan efek multiplier terhadap tenaga kerja di Indonesia. Namun, dalam jangka panjang tentu sangat tidak relevan, apalagi untuk sebuah usaha berskala besar atau yang sudah konglomerasi, akibatnya banyak tenaga kerja sendiri tersingkirkan. Itu akan berdampak sangat besar terhadap perekonomian Indonesia yang notabane nya DIKUASAI OLEH ORANG ASING, akan sangat banyak orang yg cenderung melakukan kekerasan ataupun perampokan agar dapat bertahan hidup karena tidak memiliki pekerjaan.
Pengalaman pembangunan di negara-negara yang sudah maju, khususnya negaranegara di dunia barat, membuktikan betapa besar peran pendidikan dalam proses pembangunan. Secara umum telah diakui bahwa pendidikian merupakan penggerak utama (before to move) bagi pembangunan. Secara fisik pendidikan di dunia barat telah berhasil memenuhi kebutuhan tenaga kerja Namun, di balik keberhasilan menaikkan pendidikan di kalangan masyarakat, pada tahun 1970-80-an, para ahli mulai melihat tanda-tanda "lampu-kuning" pada sistem pendidikan pada negara-negara yang sedang berkembang, termasuk di Indonesia, menimbulkan problem yaitu meninggalkan generasi muda dengan pendidikan tetapi tanpa pekerjaan dan memberikan tekanan yang berat pada anggaran belanja. Hal ini disebabkan oleh karena perkembangan di luar pendidikan, khususnya di dunia ekonomi dan teknologi, berlangsung dengan cepat sehingga perkembangan sektor pendidikan tertinggal di belakang. Akibatnya pendidikan tidak lagi berfungsi sebagai pendorong proses kemajuan, melainkan menjadi "pengikut proses kemajuan".
Pendidikan berwawasan global dapat dikaji berdasarkan dua perspektif: Kurikuler dan perspektif Reformasi perspektif kurikuler pendidikan berwawasan global berarti menyajikan kurikulum yang bersifat interdisipliner, multidisipliner dan transdisipliner. Berdasarkan perspektif reformasi, pendidikan berwawasan global menuntut kebijakan pendidikan tidak semata sebagai kebijakan sosial, melainkan suatu kebijakan yang berada di antara kebijakan sosial dan kebijakan yang mendasarkan mekanisme pasar. Oleh karena itu, pendidikan harus memiliki kebebasan dan bersifat demokratis, fleksibel danterbuka. Dari peningkatan strata dan peningkatan bidang yang sangat dibutuhkan bagi pembangunan.
Serta tantangan yang akan dihadapi kedepannya adalah lapangan pekerjaan yang akan semakin berkurang dan persaingan yang akan sangat ketat, perlunya perubahan pada pemikiran orang Indonesia yang mau bekerja dibwah komando, kenapa dia tidak membuka usaha agar lapanagn pekerjaan semakin banyak
III. Kesimpulan
Kesimpulan dari Jurnal ini, pemerintah mampu membangun paradigma baru pembangunan terhadap tiga hal yang merujuk knowledge-based economy tampak kian dominan; yaitu :
1. Kemajuan ekonomi dalam banyak hal bertumpu pada basis dukungan ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga perlu dikembangkan kegiatan-kegiatan penelitian dan pengembangan.
2. Hubungan kausalitas antara pendidikan dan kemajuan ekonomi menjadi kian kuat dan solid, dengan bukti-bukti hasil kajian di berbagai negara.
3. Menjadikan pendidikan menjadi penggerak utama dinamika perkembangan ekonomi, yang mendorong proses transformasi struktural berjangka panjang, karena pendidikan membuahkanhigh rate of return di masa yang akan datang.
Apabila 3 hal tersebut dapat dilaksanakan secara teratur dan baik, niscaya pendidikan di Indonesia akan semakin meningkat karena adanya peran dari pemerintah serta kesadaran dari masyrakat untuk menjadi anggota masyarakat yang lebih baik.
Sumber :
· Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Tahun 16, Nomor 2, 2012
Sabar Budi Raharjo
Balitbang Kemendiknas
· Khusaini, S.Pd., MSE
Guru SMAN 7 Tangerang dan Staf Pengajar pada Program Studi Pendidikan Ekonomi
FKIP UNIS Tangerang
Jurnal Ilmu Pendidikan dan Ilmu Sosial tahun 2007
· Abdul Muis Mappalotteng
Dosen Jurusan Pendidikan Teknik Elektro Fakultas Teknik UNM
Jurnal MEDTEK, Volume 3, Nomor 2, Oktober 2011